22 Februari 2020

Jilbab, Bukan Berarti Malaikat

Motor yang kukendarai menembus lautan manusia yang tumpah ruah di jalanan dalam kota. Aku yang hendak membeli makanan pun, terpaksa mencari tempat parkir yang agak jauh karena hari ini hari bebas kendaraan. Tubuhku sedikit oleng karena kesusahan mencari tempat parkir yang longgar. Aku memanggil, abang-abang parkir yang ada di seberang, mencoba meminta bantuan. Suaraku tak cukup menyita perhatian abang-abang parkir, mereka tetap sibuk menata kendaraan di seberang jalan. 

Tetapi gerak gerikku ternyata diperhatikan oleh seorang polisi lalu lintas, yang memintaku untuk turun dari motor. Pikirku akan dibantu oleh bapak-bapak itu, ternyata hanya memintaku mendorong motor dan memarkirkannya sendiri. 

Ketika hendak mengucapkan terima kasih, terdengar ucapan dari sang bapak "Bisa sendiri kan mba? Makannya yang sabar. Pake jilbab kok nggak sabaran." Aku pun urung menjawab, hanya pergi dengan perasaan yang tidak tentu.

Rasanya ingin ku balas, "polisi kok nyinyir pak, mana bantuinnya nggak ikhlas". Tapi semua itu hanya ada pada skenario di pikiranku. 

Teringat olehku ucapan seorang sahabat, aku males deh pake jilbab sesuai syariat, nanti dikira alim ini itu. Jadi kadang aku masih pakai celanalah, ini lah itu lah.

Terkadang orang pikir berjilbab sudah pasti baik bak malaikat. Nggak pernah marah, selalu sabar, selalu ini itu.

Hey, jilbab itu perintah, tertulis dalam dalil jika WANITA SUDAH BALIGH diwajibkan menutup auratnya, BUKAN wanita yang sudah baik 

Kami yang berjilbab memang belum tentu baik, jadi jangan salahkan "berjilbab kok gini kok gitu, apalagi sampai bilang sudah dilepas saja" 

Tapii yang pasti, kami yang berjilbab insya Allah berproses menjadi lebih baik dan itu menjadi pengingat kita ketika akan melakukan hal-hal yang tidak disukai Allah.

Bukan hak kalian menilai seseorang, apalagi hingga meminta untuk meninggalkan kewajiban, lebih baik saling mendoakan agar bisa menjadi lebih baik.